Seri Dragon Age adalah salah satu franchise game RPG Tradisional paling terkenal di dunia. Dragon Age: Origins, di luncurkan pada 2009, sukses menarik perhatian gamer dengan cerita mendalam, karakter kompleks, dan gameplay menarik. Seiring berjalannya waktu, game ini melahirkan sekuel-sekuel yang semakin memperluas dunia dan lore-nya, menjadikannya salah satu RPG klasik yang banyak di cintai.
Namun, setelah penantian panjang, Dragon Age: The Veilguard yang di rilis sebagai game terbaru dari seri ini justru mengecewakan banyak penggemarnya. Banyak pemain merasa game ini tidak lagi menghadirkan unsur-unsur yang mereka harapkan dari sebuah RPG tradisional. Ini memunculkan ketidakpuasan di kalangan komunitas, yang merasa bahwa pengembang telah meninggalkan mekanisme klasik yang membuat Dragon Age begitu istimewa.
Salah satu alasan ketidakpuasan ini, menurut beberapa sumber, adalah perubahan arah yang di lakukan oleh Electronic Arts (EA), penerbit dari game ini, yang tampaknya lebih fokus pada audiens yang lebih besar dan mainstream, ketimbang mempertahankan daya tarik untuk penggemar lama yang menginginkan pengalaman RPG yang lebih mendalam dan kompleks.
Baca Juga : 10 Rekomendasi Headset Gaming Terbaik 2024 di Bawah Rp500 Ribu
David Gaider Ungkap Pandangan EA Tentang Fans RPG Tradisional
David Gaider, penulis utama dari Dragon Age: Origins, memberikan wawasan menarik tentang bagaimana EA memandang penggemar RPG tradisional. Dalam wawancara dengan GamesRadar, Gaider berbagi pengalaman di BioWare dan bagaimana EA memandang pasar serta audiens dalam pengembangan RPG.
Gaider menyatakan bahwa dalam pengembangan Dragon Age: Origins, ia selalu berusaha untuk menciptakan game dengan mekanisme yang lebih tradisional—lebih lambat, lebih rumit, dan lebih berfokus pada cerita serta taktik. Upaya tersebut tidak di sambut positif oleh EA, yang lebih memilih fokus pada aksi cepat dan dinamis sesuai tren pasar saat itu.
Pernyataan ini mencerminkan ketegangan antara visi kreatif dari pengembang dengan kepentingan bisnis yang di jalankan oleh EA. David Gaider mengungkapkan bahwa, menurut pandangan EA, penggemar RPG tradisional, yang menyukai mekanisme kompleks, di anggap sebagai “orang di dalam goa”. Istilah ini merujuk pada audiens kecil yang terfokus pada aspek-aspek tertentu dari permainan dan berada di luar arus utama.
Kritik Terhadap Filosofi Bisnis EA dalam Industri Game
Salah satu poin penting yang di ungkapkan oleh Gaider adalah filosofi bisnis EA yang memandang penggemar game RPG tradisional sebagai audiens yang tidak layak di fokuskan. Menurutnya, EA lebih memprioritaskan menarik perhatian pemain yang lebih besar dan lebih mainstream, yang di anggap lebih menguntungkan. Audiens seperti ini, yang mungkin tidak terlalu terikat pada mekanisme permainan yang rumit dan lebih suka pengalaman yang cepat dan menghibur, menjadi target utama EA.
Dalam pandangan EA, audiens RPG tradisional di anggap kelompok kecil yang tidak berdampak besar terhadap penjualan game. Gaider bahkan mengatakan bahwa dalam konteks bisnis, EA merasa tidak perlu terlalu khawatir tentang penggemar lama yang ingin melihat lebih banyak aspek yang mereka cintai dari game RPG. Ini menunjukkan bahwa EA fokus pada keuntungan jangka pendek dan pasar luas, mengabaikan elemen khas yang di inginkan penggemar lama.
Namun, kritik terhadap pandangan ini muncul karena filosofi ini tidak selalu menghasilkan game yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Sebagai contoh, game seperti Anthem, yang di ciptakan dengan pendekatan serupa, tidak berhasil memenuhi harapan pemain dan menjadi kegagalan besar di pasar. Ini menunjukkan bahwa strategi EA yang berfokus pada audiens mainstream belum tentu selalu sukses.
Pembelajaran dari Kegagalan Game Seperti Anthem
Anthem adalah contoh nyata dari kegagalan yang di hadapi oleh EA dalam mengabaikan keinginan penggemar tradisional. Meskipun game ini mendapatkan perhatian besar saat pengumuman awal, kenyataannya permainan tersebut gagal memenuhi ekspektasi banyak pemain. Kegagalan ini di sebabkan karena fokus pada aksi cepat, mengabaikan elemen RPG klasik yang dicari penggemar lama.
Filsafat pengembangan yang mengutamakan audiens besar tanpa mempertimbangkan penggemar lama menyebabkan Anthem kurang terhubung dengan akar RPG-nya. Pembelajaran penting bagi EA dan pengembang game: meskipun mengikuti tren pasar, elemen yang di sukai audiens setia tetap bernilai besar.
EA harus menemukan keseimbangan antara mengikuti tren pasar dan mempertahankan kualitas serta kekuatan inti franchise untuk terus berkembang. Memahami audiens yang lebih luas sambil menghargai penggemar lama adalah kunci untuk menciptakan game yang sukses dalam jangka panjang.
Masa Depan RPG dan Harapan untuk Game-Game Berikutnya
Meskipun ketegangan antara pengembang dan penerbit, ada harapan RPG berkembang lebih inklusif di masa depan dengan lebih banyak audiens. Penggemar RPG tradisional berharap BioWare kembali menghadirkan cerita mendalam, taktik, dan kebebasan dalam menjelajahi dunia game.
Dengan berkembangnya teknologi, RPG klasik berpotensi bangkit, menggabungkan elemen lama dengan inovasi baru untuk pengalaman yang lebih menarik. Pengembang perlu mendengarkan masukan audiens agar menciptakan pengalaman yang inklusif, tanpa mengorbankan esensi genre yang di hargai.
Ke depan, tantangan bagi pengembang game adalah menjaga keseimbangan antara menjaga kualitas dengan mengikuti tren pasar. Jika dilakukan hati-hati, RPG dapat berkembang, mempertahankan elemen tradisional yang tetap relevan di dunia gaming modern.